Selasa, 14 Maret 2017

Berbagi Cerita Inspirasi : Berburu Monyet di Afrika


Bukan bermaksud merendahkan, simaklah sari pati ceritanya yang bermanfaat untuk membangun diri.

Di Afrika, ada teknik berburu monyet begitu unik. Si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup tanpa cedera sedikitpun. Tanpa senjata tajam, apalagi peluru. Bagaimana caranya?

Cara menangkapnya sederhana saja, si pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang & sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya untuk mengundang monyet-monyet itu datang.

Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup. Para pemburu biasa melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tinggal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol, tak bisa dikeluarkan.

Kok, bisa? Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat utk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi kemana-mana.

Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenarnya banyak kita manusia yang mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita menggenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet menggenggam kacang.

Kita sering menyimpan dendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah mengampuni. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya. Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha utk terus berjalan. Dan tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap penyakit hati yang teramat parah.

Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat, jika mau membuka genggaman tangannya. Dan kita pun akan selamat dari sakit hati yang berkepanjangan, jika sebelum matahari terbenam kita mau melepas semua perasaan negatif, sakit hati, dendam, kegelisahan, memaafkan terhadap siapapun, dan menyerahkan semua kepada Yang Punya Perkara. Dan menatap esok dengan langkah ringan, penuh kesabaran, serta gegap keyakinan.

1 komentar:

Suiswoyo Nur Wijaya mengatakan...

Kita sering terbius dengan kesenangan kita...