Sabtu, 19 Februari 2011

Usaha bisa ditiru tapi Rejeki tak bisa ditiru

Aku dengar kalimat ini dari seorang penasehat agama. 50 ribu tahun Jauh sebelum penciptaan bumi dan langit, qodar manusia dari lahir sampai mati telah ditulis oleh Yang Maha Kuasa. Termasuk soal rejeki yang telah diqodarkan kepada setiap manusia. jika seorang manusia telah menghabiskan sejumlah rejeki yang telah diqodarkan kepadanya maka dia kan menemui ajalnya.Pernahkah kita perhatikan sederet toko yang menual barang yang sama, di lokasi yang sama? Kok laku semua? Siapa yang menjalankan konsumen untuk mengunjungi untuk membeli ditoko yang mana? Itulah bukti bahwa semua sudah ada yang 'mengatur'. Jadi ternyata kita didunia ini bukan 'mencari rejeki' tetapi meminjam istilah yang sering dipakai Aa Gym dalam ceramahnya bahwa pada hakekatnya kita disuruh oleh Alloh untuk 'menjemput' rejeki yang telah Alloh tentukan kepada hamba-hambanya.Bahkan kalau sudah jatahnya rejeki kita 'tak akan kemana' dan bila belum saatnya menjadi rejeki kita dikejar siang malam tak kenal waktu juga tak akan kita dapatkan. Cara untuk menjemput rejeki-rejeki kita sudah pasti harus melalui sebuah cara. Kita harus mencari jalan untuk menjemput bagian rejeki kita.

Oleh karena itu:
  • Jangan putus asa untuk menjemput semua rejeki bagian kita.
  • Jangan marah bila ada orang yang menjiplak usaha kita, karena usaha bisa ditiru tapi rejeki tak bisa ditiru.
  • Kalo ternyata Sang Peniru lebih baik rejekinya, kita kembalikan kepada-Nya mungkin jalan rejeki mereka memang harus melalui ide kita, bersyukurlah.
  • Selalu bersemangat dan yakin bahwa apabila Sang Pencipta menciptakan makhluk sudah 1 paket dengan rejekinya.

Semoga bermanfaat! Selalu semangat, You can!